[Diary 1] Not a Bitter “Pare”

Not a Bitter “Pare”

            Liburan? Satu bulan lebih? Oh, come on! Ini akan buang-buang waktu dan menambah porsi makanku jika aku harus hanya menghabiskan waktu di rumah. Berkutat dengan cerita yang aku tulis, social media, dan segala sesuatu yang berputar hanya begitu-begitu saja. Bahkan aku sudah kehabisan ide akan melanjutkan cerita untuk novelku ini akan seperti apa. Sudah terlalu jenuh aku ‘berpacaran’ dengan tokohku ini dan mungkin saja menjadikan aku seorang yang freak.

            Hingga akhirnya aku memutuskan untuk menghabiskan setengah dari liburanku yang terbuang untuk pergi ke sebuah tempat baru yang belum pernah aku singgahi. Mendapatkan pengalaman baru, cerita baru, sahabat baru dan oh well… kalau kalian pikir akan mendapatkan lelaki baru, anggap saja itu bonus. Tujuan utamaku untuk ke tempat baru itu bukan mencari pacar baru, for your information saja. Tapi benar-benar mencari pengalaman baru. Continue reading

[Flash Fiction] On Rainy Days

On Rainy Days

“I Love you as rain.” You always said like that when it rains.

“Why?” and I always asked you, but you never give me a single reason why you loved me as rain.

It was rainy days. I know it was a year you leave me alone in this crazy world. Even, rains let you go that day. As a wife who bloody in love with you, I always remember when we fought just because a stupid reason. But it was the way how we interact each other. You would be mad when I so busy with my job, yeah, you know I’m a career woman before married with you. And I would be mad too if you back home so late because of you have a schedule in your Hospital. Yes, because you’re a surgeon that help a lot of people.

But, I loved the way we enjoyed what we like. You with your music, I’m with my books, sit together in the lovely weekend. I remember the way you woke me up in the morning and whispered, “Good morning, my Ame.”

Then you will kiss my lips. Still remember how you grab my waist, how warm your hug, and how romantic are you.

Now no more, kiss, hug, and sweet whispered from you when you call my name.

“Why you never call me ‘darling’, ‘honey’, or other sweet things?” I ever protest to you when you always call my name and never call me “darling”, or “honey”. You just smile and tell me that my name to beautiful to change with another nickname.

Today, I know the reason why you love me as rain. Because of my name. Yes, Ame mean rain in Japanese language. And, I always love you not only as rain, but as summer, winter, autumn, and spring that always come in every year.

***

Eomma’s Gank

228428_412553065460960_471108056_n

 

“Aku mau sama Eomma!!” teriak Jasmine saat bangun dari tidur di pagi hari dan turun dari gendongan Dong Hae. Gadis kecil itu berlari ke dapur dan menemukan ibunya sedang menyeduh kopi manis untuk Dong Hae. “Eomma!!!” Jasmine segera memeluk kaki ibunya dan bergelayut manja.

“Halo, cantik!” dengan susah payah Cheon Sa mensejajarkan tingginya dengan Jasmine lalu mengecup bibir anaknya. Jasmine lalu memeluk ibunya dan menjulurkan lidahnya pada Dong Hae. Membuat pria itu keheranan. Tidak biasanya Jasmine akan memusuhinya. Continue reading

[Sequel Au Revoir] Watashi To Kekkon Suru?

Medion DIGITAL CAMERA

Watashi to kekkon suru?

      Bulan ketiga di awal tahun di saat angin musim semi berhembus membawa aroma rerumputan dan bunga-bunga yang segar. Di saat kumbang dan kupu-kupu mengerjakan tugasnya melakukan penyerbukan. Di saat bunga Sakura, Maehwa, Canola dan bunga-bunga lain berlomba-lomba mempercantik diri mereka ikut menyemarakkan datangnya musim semi. Seorang gadis berjalan dengan coat panjang selututnya sesekali membidikkan lensa kamera lomo-nya pada bunga-bunga yang bermekaran. Langkahnya terlihat ringan dan rambut ikal panjangnya bergerak tertiup angin.

Gadis itu masih mengingat akan janjinya kepada seseorang lima tahun lalu. Seseorang yang tidak di temuinya di Jepang. Mungkinkah orang itu masih mengingat janjinya? Bahkan gadis itu sendiri pun tidak yakin. Tapi, apa salahnya menunggu disini. Di Namsan Tower. Tempat yang di janjikan dulu kepada orang itu. Melihat dirinya dalam kondisi yang sehat dan tidak berpenyakitan seperti dulu. Continue reading

Your Body is Wonderland

Untitled-23

Your Body is Wonderland

“We got the afternoon
You got this room for two
One thing I’ve left to do
Discover me
 Discovering you”

Wellington-New Zealand

Hari pertama Na Young dan Si Won di New Zealand seminggu setelah kepulangan Si Won dari Amerika. Ya, mereka tengah menikmati waktu bulan madu mereka. Di sore yang cerah di Wellington, Na Young masih enggan berjalan-jalan dan memilih berdiam diri di cottage yang mereka sewa. Si Won dan Na Young bermalas-malasan sembari menonton saluran tv international. Si Won merebahkan diri dipangkuan Na Young dengan mata keduanya yang tidak lepas dari acara tv yang kebetulan tengah menayangkan Fashion channel.  Continue reading

[Christmas Special] Santa (Daddy) Harabeoji

522246_409472085740293_752487924_n

Daddy, Santa itu… seperti apa?” Dae Hyun melontarkan pertanyaan pada ayahnya yang sedang memainkan macbook-nya sembari tengkurap di kasur.

“Eumm, Santa itu seorang kakek dengan perut besar dan jenggot putihnya yang panjang. Dia akan membawa hadiah untuk anak-anak baik di seluruh dunia dengan kereta yang bisa terbang dan dikendarai oleh 7 ekor rusa. Santa akan masuk melalui cerobong asap.”

Dae Hyun menopang dagu dengan kedua tangannya. “Santa tinggal dimana, Dad?”

“Di kutub utara.”

“Kapan Santa akan datang memberi hadiah untuk Dae Hyun?”

“Saat malam natal. Dia akan meletakkan hadiah di bawah pohon natal.”

“Aku ingin bertemu Santa, Daddy.” Continue reading

[Christmas Special] Isn’t She Lovely?

tumblr_m3m2hmao4B1r97trgo1_1280

Dong Hae baru saja pulang setelah memenuhi semua jadwalnya untuk hari ini. Dia bingung saat putri kesayangannya mengabaikannya saat dia datang. Biasanya Jasmine akan langsung menghambur ke pelukan Dong Hae dan mengajak ayahnya bercanda. Dong Hae mengerutkan kening bingung melihat Jasmine melenggang masuk ke kamarnya. Cheon Sa menghampiri Dong Hae seperti biasanya dan menyambut suaminya dengan pelukan dan ciuman singkat.

“Kenapa dengannya? Tidak biasanya.”

Cheon Sa menggiring Dong Hae masuk ke dalam kamar. “Tiga hari lagi natal. Sekolahnya mengadakan pagelaran natal dan dia terpilih untuk menyanyikan lagu natal. Dia bertanya kepadaku apakah hari itu jadwalmu kosong, dan aku bilang kau ada acara untuk natal. Mungkin… dia sedikit marah.”

Dong Hae menghela napas panjang dan merebahkan diri di kasur. Memang, saat hari natal dia harus mengisi di salah satu program tv.

“Jam berapa acaranya?”

“Jam 7 malam.”

“Baiklah.” Dong Hae neranjak dari tidurnya dan berjalan keluar kamar. Dia melangkah ke kamar Jasmine. Saat dia mengetuk pintu, tidak ada jawaban dari Jasmine. Hingga Dong Hae memutuskan untuk masuk. Dilihatnya Jasmin tidur di kasur dengan selimut yang menutupi hampir seluruh tubuhnya.

“Jasmine, cantik.” Jasmine tidak bergeming dengan panggilan Dong Hae.

Dong Hae memutuskan  untuk ikut tidur di sebelah Jasmine lalu mendekap anaknya. “Jasmine akan menyanyi untuk perayaan natal, ya? Apakah orang tua juga diundang?” Jasmine masih diam dan menganggukkan kepalanya. “Ok, Appa akan datang bersama Eomma.”

Jinjja?” Jasmine nampak tidak percaya dengan ucapan ayahnya.

“Tentu saja, cantik.”

“Tapi kan, Appa ada acara.”

“Acara Appa hanya sampai sore dan malamnya Appa bisa datang ke acara Jasmine.”

Appa, gomawoyo.” Jasmine tersenyum senang dan memeluk ayahnya dengan erat.

***

Jasmine berdiri di atas panggung dengan mata yang menyapu bersih seluruh sudut ruangan. Tidak, tidak ada ayahnya. Dong Hae berjanji padanya untuk datang, namun hingga sekarang pria itu belum muncul juga. Jasmine hanya melihat ibunya dengan bangku kosong di sebelahnya. Kepala Jasmine tertunduk lalu berjalan mundur manjauhi mik, dia memutuskan untuk tidak jadi bernyanyi di atas panggung. Beberapa gurunya nampak terlihat panik dan bingung.

“JASMINE!!”

Jasmine berhenti melangkah dan Dong Hae berdiri di ujung ruangan melambai ke arahnya. Jasmine tersenyum cerah dan kembali berjalan mendekati mik saat Dong Hae menyuruhnya untuk segera bernyanyi. Suara denting piano pun mulai terdengar. Jasmine menggerakkan tubuhnya yang di balut dengan gaun putih dan memegang sebuket bunga nampak sangat cantik.

“Kenapa baru datang? Hampir saja dia tidak mau bernyanyi.” Bisik Cheon Sa saat Dong Hae duduk di sebelahnya. Dong Hae hanya tersenyum dan tidak memperdulikan Cheon Sa.

“ulmyeonandwe, ulmyeonandwe…

santa harabeojineun…”

“Dia… manis bukan?” ucap Dong Hae senang pada Cheon Sa.

***